Sila Ke Enam : Kreatif Sampai Mati







Judul        : Sila ke-6 : Kreatif Sampai Mati!
Penulis     : Wahyu Aditya
Penerbit   : Bentang Pustaka
Kategori  : Non Fiksi - Kemampuan Kreatif
Tebal       : 320 Halaman
Harga      : Rp 59.000
Bonus      : Stiker KDRI + TTD + Gambar Muka Kartunmu Ala Mas Gembol!

Kreatif itu berbeda,
Kreatif itu membalikkan cara pandang,
Kreatif itu butuh niat kuat.


Ketika kita kecil, dunia adalah tempat bermain yang sangat luas.
Segala sesuatu yang kita inginkan, dengan mudah terealisasi karena kita punya senjata yang sangat ampuh : imajinasi.
Setelah beranjak dewasa, semakin banyak peraturan yang mengekang imajinasi kita. Dan, rasa takut malah mengalahkan ide-ide yang berdesakan keluar. Tapi, kita sesungguhnya masih punya satu lagi senjata pamungkas : kreativitas.
Dikemas dengan konsep scratch book, ditulis dengan bahasa yang ringan, buku ini tidak menjual mimpi tetapi justru menyemai imajinasi Anda untuk tumbuh.

Kreatif itu...SAMPAI MATI!
Tag : ,

Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck


 
Tenggelamnja Kapal Van der Wijck (EYD: Tenggelamnya Kapal Van der Wijck) adalah sebuah novel yang ditulis oleh Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau lebih dikenal dengan nama Hamka. Novel ini mengisahkan persoalan adat yang berlaku di Minangkabau dan perbedaan latar belakang sosial yang menghalangi hubungan cinta sepasang kekasih hingga berakhir dengan kematian.

Novel ini pertama kali ditulis oleh Hamka sebagai cerita bersambung dalam sebuah majalah yang dipimpinnya, Pedoman Masyarakat pada tahun 1938. Dalam novel ini, Hamka mengkritik beberapa tradisi yang dilakukan oleh masyarakat pada saat itu terutama mengenai kawin paksa. Kritikus sastra Indonesia Bakri Siregar menyebut Van der Wijck sebagai karya terbaik Hamka, meskipun pada tahun 1962 novel ini dikecam sebagai plagiasi dari karya Jean-Baptiste Alphonse Karr berjudul Sous les Tilleuls (1832).

Diterbitkan sebagai novel pada tahun 1939, Tenggelamnya Kapal Van der Wijck terus mengalami cetak ulang sampai saat sekarang. Novel ini juga diterbitkan dalam bahasa Melayu sejak tahun 1963 dan telah menjadi bahan bacaan wajib bagi siswa sekolah di Indonesia dan Malaysia.

Pengarang:
Hamka
Bahasa:
Bahasa Indonesia, Melayu
Genre:
Novel
Penerbit :
Bulan Bintang
Tanggal terbit
1938
Tag : ,

Kisah Sukses J.K. Rowling


Sejak kecil, Rowling memang sudah memiliki kegemaran menulis. Bahkan di usia 6 tahun, ia sudah mengarang sebuah cerita berjudul Rabbit. Ia juga memiliki kegemaran tanpa malu menunjukan karyanya kepada teman dan orangtuanya. Kebiasaan ini terus dipelihara hingga ia dewasa. Daya imajinasi yang tinggi itu pula yang kemudian melambungkan namanya di dunia.

Akan tetapi, dalam kehidupan nyata, Rowling seperti tak henti-henti diserang masalah. Keadaan yang miskin, yang bahkan membuat ia masuk dalam kategori pihak yang berhak memperoleh santunan orang miskin dari pemerintah Inggris, itu masih ia alami ketika Rowling menulis seri Harry Potter yang pertama. Ditambah dengan perceraian yang ia alami, kondisi yang serba sulit itu justru semakin memacu dirinya untuk segera menulis dan menuntaskan kisah penyihir cilik bernama Harry Potter yang idenya ia dapat saat sedang berada dalam sebuah kereta api. Tahun 1995, dengan susah payah karena tak memiliki uang untuk memfotocopy naskahnya, Rowling terpaksa menyalin naskahnya itu dengan mengetik ulang menggunakan sebuah mesin ketik manual.

Naskah yang akhirnya selesai dengan perjuangan susah payah itu tidak lantas langsung diterima dan meledak di pasaran. berbagai penolakan dari pihak penerbit harus ia alami terlebih dahulu. Diantaranya adalah karena semula ia mengirim naskah dengan memakai nama aslinya Joanne Rowling. Pandangan meremehkan penulis wanita yang masih kuat membelenggu para penerbit dan kalangan perbukuan menyebabkan ia menyiasati dengan menyamarkan namanya menjadi JK Rowling. Memakai dua huruf konsonan dengan harapan ia akan sama sukses dengan penulis cerita anak favoritnya CS Lewis.

Akhirnya keberhasilan pun tiba. Harry Potter luar biasa meledak dipasaran. Semua itu tentu saja adalah hasil dari sikap pantang menyerah dan kerja keras yang luar biasa. Tak ada kesuksesan yang dibayar dengan harga murah.
Tag : ,

Gadis Pantai


Buku 'Gadis Pantai' ini termasuk  buku Pram yang tipis  dibanding bukunya  yang  lain yang pernah saya baca ,  biarpun tipis ceritanya tetap menarik dan penuh dengan kata-kata yang 'berisi’ dan  menggali rasa kemanusiaan pembacanya.
Gadis Pantai  sebetulnya merupakan cerita roman yang belum selsai karena konon ini sejatinya sebuah trilogi, tapi cerita selanjutnya lenyap ketika prahara politik terjadi di Indonesia. Walaupun begitu membaca Gadis Pantai tidak membuat pembacanya kehilangan  inti  ceritanya  yang menarik.


Pramoedya  A.T.
    “Mengerikan bapak, mengerikan kehidupan priyayi ini…
    Seganas-ganas laut, dia lebih pemurah dari hati priyayi…
    Ah tidak, aku tak suka pada priyayi. Gedung-gedung yang
    Berdinding batu itu neraka. Neraka. Neraka tanpa perasaan.”
                Pramoedya Ananta Toer


Gadis Pantai   berusia  14 tahun ,  hidup di kampung nelayan  Kabupaten Rembang, Jawa tengah.  Tanpa persetujuan dirinya , dia  ‘dambil’ menjadi gundik seorang   pembesar santri keturunan priyayi.   Ternyata pada masa itu apabila seorang pembesar/priyayi belum menikah dengan wanita yang sederajat martabatnya  boleh  ‘mengambil’ gundik yang berasal dari wanita kebanyakan. Bagi orang kebanyakan, bila  pembesar berkenan mengambil anaknya sebagai gundik akan memberikan prestise  di kampungnya karena telah dinaikkan derajatnya.  Tugas sang gundik adalah melayani   kebutuhan seks   Bendoro (panggilan untuk priyayi tsb) .  Sampai kapan wanita tsb bisa menjadi  ‘istri’ sang Bendoro ?  sampai Bendoro memutuskan menikah dengan wanita sederajat atau..terserah  semaunya  ‘beliau’   mau  tetap atau mau ganti gundik...dan selama belum menikah dengan yang sederajat maka Bendoro ini  disebut belum menikah walaupun sudah mempunyai  banyak anak dari para  gundiknya.
Biarpun di lingkungan pembesar itu hidup serba berkecukupan tapi bagi Gadis Pantai hdupnya menjadi seperti di neraka, berbeda dari di kampung asalnya yang serba bebas  tak ada perbedaan  sesama warganya sedangkan  di sini  gedung besar tapi sunyi tak boleh berbicara sembarangan  dan bertindak sembrono semua  kewenangan ad adi tangan Bendoro  seolah yang lain tak mempunyai  hak sama sekali.
Tag : ,

- Copyright © Koleksi Buku Jaman Dulu - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -